Rabu, 26 Mei 2010

Air terjun Cuban Rondo









Kisah dibalik Air Terjun Coban Rondo, bermula dari sepasang pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi, sedangkan mempelai pria bernama Raden Baron Kusumo dari Gunung Anjasmoro. Setelah usia pernikahan mereka menginjak usia 36 hari atau disebut dengan Selapan (bahasa jawa). Dewi Anjarwati mengajak suaminya berkunjung ke Gunung Anjasmoro, yang merupakan asal dari suami. Namun orang tua Anjarwati melarang kedua mempelai pergi karena usia pernikahan mereka baru berusia 36 hari atau disebut selapan. Namun kedua mempelai tersebut bersikeras pergi dengan resiko apapun yang terjadi di perjalanan.

Ketika di tengah perjalanan keduanya dikejutkan dengan hadirnya Joko Lelono, yang tidak jelas asal-usulnya. Nampaknya Joko Lelono terpikat dengan kecantikan Dewi Anjarwati, dan berusaha merebutnya. Akibatnya perkelahian antara Joko Lelono dengan Raden Baron Kusumo tidak terhindarkan. Kepada para pembantunya atau disebut juga puno kawan yang menyertai kedua mempelai tersebut, Raden Baron Kusumo berpesan agar Dewi Anjarwati disembunyikan di suatu tempat yang terdapat di Coban atau air terjun. Perkelahian antara Raden Baron Kusumo dengan Joko Lelono berlangsung seru dan mereka berdua gugur. Akibatnya Dewi Anjarwati menjadi seorang janda yang dalam bahasa jawa disebut Rondo. Sejak saat itulah Coban atau air terjun tempat bersembunyi Dewi Anjarwati dikenal dengan COBAN RONDO. Konon batu besar di bawah air terjun merupakan tempat duduk sang putri yang merenungi nasibnya.

Jumat, 30 April 2010

Air Terjun Coban Canggu




Air Terjun Coban Canggu


Terletak di Desa Padusan, Kecamatan Pacet. Obyek ini berada dalam kawasan Wana Wisata Air Panas.

Air terjun Coban Canggu merupakan air terjun dengan ketinggian +15 m, dikelilingi pepohonan lebat dengan udara pegunungan yang sejuk. Untuk mencapai air terjun, dari pintu masuk, pengunjung meniti anak tangga menuju lokasi. Sepanjang perjalanan menuju disediakan gazebo-gazebo untuk beristirahat. Sekeliling gazebo banyak ditemukan penjual makanan dan minuman.

Banyaknya bebatuan di sekitar air terjun menambah kesan alami panorama wana wisata air tejun Coban Canggu.

Senin, 26 April 2010

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru





Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun.

Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).

Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di taman nasional ini.Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut.

Di laut pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya (± 3.500 jiwa).

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Suku Tengger yang berada di sekitar taman nasional merupakan suku asli yang beragama Hindu. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri. Uniknya, melihat penduduk di sekitar (Su-ku Tengger) tampak tidak ada rasa ketakutan walaupun menge-tahui Gunung Bromo itu berbaha-ya, termasuk juga wisatawan yang banyak mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada saat Upacara Kasodo.


Upacara Kasodo diselenggarakan setiap tahun (Desember/Januari) pada bulan purnama. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya harus menuruni tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Perebutan sesaji tersebut merupakan atraksi yang sangat menarik dan menantang sekaligus mengerikan. Sebab tidak jarang diantara mereka jatuh ke dalam kawah.

Rabu, 21 April 2010

Pemandian Jolotundo







Dalam kamus jawa kuno jalatundo berarti sesuatu yang mirip dengan paruh seekor burung. Pemandian jolotundo terletak di lereng gunung penanggungan sebelah barat, termasuk kelurahan seloliman, kecamatan trawas, kabupeten mojokerto. Pemandian ini kira-kira dibangun pada akhir abad 10, terletak pada ketinggian 750 m diatas permukaan air laut. Menurut para ahli bangunan ini erat hubungannya dengan cerita udhayana ayah raja airlangga. Pada dinding sebelah kanan terdapat suatu tulisan yang dapat dibaca sebagai angka tahun 899 (977 ad) sedang tulisan disebelah kiri ada tulisan yang dapat dibaca “GEMPENG” tulisan ini mempunyai arti sebuah penguburan (pemakaman). Kemudian dibawah lantai kolam ditemukan sebuah peti kecil yang berisi sesuatu yang berhubungan dengan penguburan.
Air dari atas gunung penanggungan erat hubungannya dengan suatu kehidupan, keabadian serta menjadi obat dan mujarab. Selain itu dihubungkan lagi dengan kekuatan magis yaitu jika dilihat dari ombak-ombak air yang mengalir membawa abu dan benda-benda lain yang digambarkan ada abu jenasah yang dikubur dibawah kolam.
Hingga sekarang air jolotundo sering dimanfaatkan orang sebagai pengobatan, selain itu jika kita berkunjung ke lokasi tersebut dapat memanfaatkan air itu untuk dapat langsung diminum tanpa direbus lebih dulu, karena menurut penelitian orang belanda yang pernah meneliti keadaan air jolotundo adalah termasuk renking ke 5 terbersih seluruh dunia. Tadi telah disinggung tentang udhayana, maka pada kekunaan itu ditemukan sebuah cerat yang menggambarkan tentang tokoh bernama putri megawati sedang dibawa oleh seekor burung garuda, tetapi relief tersebut telah disimpan di museum pusat jakarta, tinggi cerat itu kurang lebih 55 cm.
Cerita singkat relief tersebut adalah sebagai berikut :
ada seorang tokoh bernama sahasranika yang menginginkan putri sangat cantik bernama dewi megawati tadi tapi entah dari mana asal usulnya datanglah sang garuda langsung membawa putri tadi terbang ke angkasa. Apakah garuda tadi adalah peralihan ujud manusia menjadi hewan atau memang benar-benar garuda, masih belum jelas. Karena putri megawati sewaktu dibawa terbang ke angkasa dan melewati hutan-hutan di atas gunung lahirlah udhayana. Ia adalah seorang tokoh yang dikaitkan dengan peninggalan di jalatundo ini, jika benar, apakah udhayana kemudian dimakamkan dipetirtaan jalatundo ? Teori sarjana belanda bernama wendenaar perlu digaris bawahi, karena ditemukan guci yang berisi abu dan tulang-tulang.

Sabtu, 17 April 2010

Candi Tikus






Candi tukus terletak di dukuh Dinuk Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Candi ini berukuran 29,5X28,25 meter dan tinggi keseluruhan 5,2 meter. Nama candi tikus diambil dari sejarah penemuannya yang ketika itu pertama kali ditemukan di sana ditemukan banyak sekali tikus, dan hama tikus ini menyerang pertanian desa di sekitarnya. Pertama kali ditemukan pada tahun 1914 kemudian baru dilakukan pemugaran pada tahun 1983-1986.

Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Tikus merupakan replika atau lambang Mahameru. Candi ini disebut Candi Tikus karena sewaktu ditemukan merupakan tempat bersarangnya tikus yang memangsa padi petani
Di tengah Candi Tikus terdapat miniatur empat buah candi kecil yang dianggap melambangkan Gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam dan sumber segala kehidupan yang diwujudkan dalam bentuk air mengalir dari pancuran-pancuran/jaladwara yang terdapat di sepanjang kaki candi. Air ini dianggap sebagai air suci amrta, yaitu sumber segala kehidupan.
Arsitektur bangunan melambangkan kesucian Gunung Mahameru sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Menurut kepercayaan Hindu, Gunung Mahameru merupakan tempat sumber air Tirta Amerta atau air kehidupan, yang dipercaya mempunyai kekuatan magis dan dapat memberikan kesejahteraan, dari mitos air yang mengalir di Candi Tikus dianggap bersumber dari Gunung Mahameru.
Gunung meru merupakan gunung suci yang dianggap sebagai pusat alam semesta yang mempunyai suatu landasan kosmogoni yaitu kepercayaan akan harus adanya suatu keserasian antara dunia dunia (mikrokosmos) dan alam semesta (makrokosmos). Menurut konsepsi Hindu, alam semesta terdiri atas suatu benua pusat yang bernama Jambudwipa yang dikelilingi oleh tujuh lautan dan tujuh daratan dan semuanya dibatasi oleh suatu pegunungan tinggi. Jadi Sangat mungkin Candi Tikus merupakan sebuah petirtaan yang disucikan oleh pemeluk Hindu dan Budha, dan juga sebagai pengatur debit air di jaman Majapahit.

Kamis, 15 April 2010

KaKek Bodho WaterFall


Rasa-rasanya hari berlalu begitu cepat kalau kita sedang menghabiskan masa liburan yang begitu menyenangkan bersama teman-teman kantor. Seperti yang baru saja kita lakukan ketika kita semua, saya mas hendra, mas Irul, pak john, bos soim di tempat wisata alam ait terjun Bakek Bodo Prigen, Pasuruan Jawa Timur. Ini adalah tempat wisata yang begitu menakjubkan bagi kami. Detail tentang wisata Air Terjun Kakek Bodo Adalah sebagai berikut.

Sebelum Anda memasuki area wisata Anda akan diharuskan untuk membayar uang parkir sebesar Rp 3000 per motor. Untuk mencapai tempat parkir anda harus extra hati-hati karena jalan menuju tempat parkir sangatlah menanjak. Setelah Anda melewati sekitar 20 meter dari tempat parkir akan ada tempat pembelian tiket masuk seharga Rp 4100 perkepala.

Ketika Anda sudah mendapatkan tiket maka anda bisa langsung menuju obyek wisata air terjun kakek bodo dengan menempuh jarak kurang lebih satu kilometer dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan anda akan di sambut beberapa ekor kera yang menghuni pegunungan tersebut, semak yang menandakan masih asrinya daerah wisata ini. Sembari menaiki anak tangga anda bisa melihat pemandangan di kaki gunung yang indah.

Di sepanjang jalan menuju air terjun anda juga bisa membeli makan di tepi jalan. Nah, masih di jalan menuju air terjun, anda bisa melihat adanya makam Kakek Bodo yang berada di sebelah timur jalan setapak yang anda lewati yang juga menandakan air terjun sudah dekat, hanya berjarak 100 meter. Setelah Anda sampai maka anda bisa mendengarkan gemuruhnya air yang jatuh dari ketinggian sekitar 50 meter.

Air terjun ini di kelilingi dengan bebatuan yang di topang oleh akar-akar pepohonan. Kurang puas dengan melihat air terjun anda bisa menikmati dinginnya air terjun dengan mandi dibawah air terjun yang mengalir dengan derasnya dan juga jernih. Tetapi pastikan bahwa Anda akan tahan dengan dinginnya air pada air terjun ini.

Setelah anda puas dengan menikmati dinginnya ait terjun Kakek Bodo anda juga bisa menikmati obyek wisata yang lainnya yaitu menelusuri jalan setapak yang menanjak menuju ke Gunung Arjuna dan Gunung Welirang yang berada di sebelah barat air terjun Kakek Bodo. Namun pastikan anda memiliki cukup bekal dan energi untuk bisa menaklukkan pajangnya jalan setapak menuju kedua gunung tersebut. Namun jika itu bukan menjadi pilihan obyej setelah air terjun maka anda bisa menikmati berenang di kolam renang dengan hanya membayar karcis masuk yaitu sebesar Rp 3000 per kepala.

Nah Bagaimana apakah Anda tertarik? Jika demikian anda dengan mudah bisa mencapainya dengan kendaraan roda 2 ataupun kendaraan roda 4. Akses menju kesana sangatlah mudah. Anda hanya perlu mengikuti jalan menuju Polsek Prigen-Ambil arah Kekiri dan ikuti sepanjang jalan raya tersebut, maka dengan mudah anda akan bisa menemukan Wisata alam Air terrjun Kakek Bodo.

Namun sayang penulis tidak bisa berbagi pengalaman melalui gambar karena seminggu sebelum liburan kamera kami hilang. Namun Anda bisa mencobanya langsung untuk merasakan dinginnya air terjun Kakek Bodo.

Kamis, 25 Maret 2010

Air Terjun Dlundung


Air Terjun Dlundung

Air terjun Dlundung terletak di Desa Ketapanrame, Kecamatan Trawas.

Obyek utamanya berupa air terjun dengan ketinngian + 14 meter di lereng Gunung Welirang.

Kawasan air terjun Dlundung dilengkapi dengan bumi perkemahan dan warung-warung yang siap melayani para pengunjung dengan suasana pedesaan yang khas. Nuansa alam pegunungan nan sejuk dan berpanorama andah merupakan daya tarik tersendiri.

Oleh-oleh khas wisata pegunungan berupa sayur-sayuran dan buah-buahan segar bisa didapat tidak jauh dari lokasi. Puluhan hotel dan Villa tersebar di sekitar lokasi dengan harga terjangkau.

Puncak kunjungan wisatawan biasanya terjadi pada saat libur idul fitri, tahun baru dan libur sekolah.


Kabupaten Mojokerto dan Pasuruan beruntung punya banyak objek wisata alam di pegunungan. Ini penting sekali bagi orang Surabaya untuk melepas penat setelah kerja keras selama satu minggu. Tiap akhir pekan banyak orang Surabaya yang rekreasi ke pegunungan.

Menghirup udara segar, menikmati alam pegunungan yang sejuk. Maklum, udara di Surabaya sangat panas, bisa tembus 35-37 derajat Celcius pada puncak kemarau. "Akhir pekan kami sekeluarga, kalau gak ada halangan, mesti ke pegunungan, Naik pegunungan itu bisa berarti Prigen, Tretes, Pacet, Ledok, Pujon, Batu, dan seterusnya.

Salah satu objek pegunungan yang bagus dinikmati adalah air terjun [kerennya: waterfall]. Ada tiga air terjun bertetangga: Kakekbodo, Putuktruno, Dlundung. Nah, Minggu 21 maret 2010 saya berkunjung di air terjun Dlundung di Trawas, Mojokerto.

Jalan relatif bagus. Dari Sidoarjo [macet di Porong karena lumpur lapindo], Pandaan, masuk Raya Trawas, lalu berbelok ke arah Dlundung. Ada papan nama cukup besar. Para tukang ojek siap memberikan petunjuk kalau kita bingung. Sekira dua kilometer dari jalan raya, menanjak, sampailah di pintu gerbang.

Bayar karcis Rp 3.500 per orang [termasuk asuransi Rp 100]. Ini retribusi untuk Pemerintah Kabupaten Mojokerto. Beda dengan Kakekbodo atau Putuktruno [kedua air tejun ini di Kabupaten Pasuruan], kita bisa bawa kendaraan bermotor hingga di depan air terjun. Parkir, lalu jalan kaki sebentar saja sampai. Tak perlu ngos-ngosan macam di Air Terjun Kakekbodo.

Cipratan air terjun menambah sejuk suasana. Ada sensasi tersendiri. Kita bisa merasakan kebesaran Tuhan, berefleksi, di depan air terjun sekira 50-60 meter itu. Volumenya kecil saja. Suara air yang konstan, menghantam batu-batu gunung, asyik disimak. Di sini tidak begitu ramai karena lokasinya relatif jauh ketimbang Kakekbodo dan Putuktruno.

Saya perhatikan mayoritas pengunjung anak-anak muda. Mereka membawa pasangan [pacar] masing-masing. Bikin acara sendiri-sendiri. Khas anak muda, remaja, yang baru kenal nikmatnya berkasih mesra. "Memang yang datang ke sini umumnya anak-anak muda. Tapi ada juga lho keluarga yang bawa anak-anak," tutur Riyati, pemilik warung. Ibu ini didampingi Lia, anaknya.

Air terjun Dlundung bukanlah objek wisata kemarin sore. Pada era Hindia Belanda lokasi ini sudah sering dikunjungi tuan-tuan dan nyonya-nyonya Belanda untuk rekreasi. Pada 10 Februari 2007, Carolina Lenkiewicz-Andreiessen alias Rieki berkunjung ke rumah Bapak Max Arifin [seniman, tokoh teater Jawa Timur, kini almarhum] dan Ibu Sitti Hadidjah di Mojokerto. Rieki ini anaknya Gerardus Andriessen, arsitek terkenal pada masa penjajahan Belanda.

Gerardus membangun banyak gedung bersejarah di Jawa, salah satunya kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Surabaya. Rieki kebetulan membawa album kenangan semasa di Jawa Timur. Di antaranya, air terjun Dlundung, Trawas, pada tahun 1934. Hebat benar orang Belanda! Dokumen lama pun masih dirawat dengan sangat baik.

Sebaliknya, kita di Indonesia lemah dalam urusan arsip dan dokumentasi macam ini. Bisa saya pastikan, Pemkab Mojokerto tidak punya foto masa lalu Dlundung atau objek wisata lain di Mojokerto. Harus cari di Belanda dulu! Hehehe.....

Membandingkan air terjun Dlundung pada 1934 dan 2008 sungguh jauh berbeda. Di foto lawas itu aliran air sangat deras, tebal. Sekarang saya perkirakan tinggal 20 persen saja. Saya bisa bayangkan betapa gemuruhnya air terjun Dlundung pada masa Hindia Belanda. Sekarang gemuruh itu tak ada. Hanya kecipak-kecipak kecil saja. Kalau tidak dijaga baik-baik, hutan gundul, bisa jadi suatu ketika air terjun ini hilang.